Penguin Of Madagaskar

Cara Baru Eksis Lewat Internet

-

Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 April 2012

Cerita Sukses Basrizal koto

Basrizal Koto (lahir di Pariaman, Sumatera Barat pada tahun 1959) adalah pengusaha sukses asal Sumatera Barat, Indonesia. Basrizal atau yang biasa dipanggil Basko sukses berbisnis di berbgai bidang, antara lain: media, percetakan, pertambangan, peternakan, perhotelan, hingga properti.

Biografi Singkat


Basko lahir di Kampung Ladang, Pariaman dari pasangan Ali Absyar dan Djaninar. Masa kecilnya sangatlah getir, dimana Basko sempat merasakan hanya makan sehari sekali, di mana untuk makan sehari-hari saja sang ibu harus meminjam beras ke tetangga. Ayahnya hanyalah bekerja sebagai buruh tani yang mengolah gabah. Karena susahnya hidup, ia ditinggal ayahnya yang pergi merantau ke Riau. Ketabahan sang ibu yang dipanggilnya amak dalam menghadapi kehidupan selalu membekas dihatinya.
Meski sempat bersekolah hingga kelas lima SD, Basko akhirnya berkesimpulan bahwa kemiskinan harus dilawan bukan untuk dinikmati. Atas seizin ibunya, diapun memilih pergi merantau ke Riau dibanding melanjutkan sekolah. Sebelum berangkat, ibunya berpesan agar menerapkan 3 K dalam hidup, yaitu pandai-pandai berkomunikasi, manfaatkan peluang dan kesempatan, serta bekerjalah dengan komitmen tinggi. 3 K itulah yang dia terapkan dalam berbisnis. Hal pertama yang dilakukannya di perantauan adalah datang ke terminal setelah subuh untuk mencari pekerjaan menjadi kernet. Berkat kemampuannya berkomunikasi, maka hari pertama dia sudah bisa membantu sopir oplet. Saat pertama jadi kernet, siang-malam dia bekerja hingga memungkinkan untuk menyewa rumah kontrakan guna menampung keluarga.

Awal Usaha

Basko yang panjang akal dan visioner mengawali usahanya dengan berjualan pete. Meski tidak punya uang tetapi dengan modal kepercayaan, pete yang belum dibayar dibawanya ke restoran Padang dan dijual dengan selisih harga yang lebih tinggi. Perjalanan hidupnya penuh warna dan keinginan untuk terus mengubah nasib mengantarnya menjajal berbagai macam profesi mulai dari kernet, sopir, pemborong, tukang jahit, tukang cuci mobil hingga akhirnya menjadi diler mobil.
Kemahirannya berkomunikasi, membangun jaringan, menepati janji, dan menjaga kepercayaan akhirnya membawanya sukses menaklukan kemiskinan, membangun kerajaan bisnis, dan menciptakan lapangan kerja. Jumlah perusahaan yang dikelolanya kini mencapai 15 perusahaan dan sejak 2006 dia juga terjun ke bisnis penambangan batu bara di Riau, menyediakan jasa TV kabel dan Internet di Sumatra.

Bisnis

Beberapa perusahaan yang masuk dalam MCB Group miliknya adalah PT Basko Minang Plaza (pusat belanja), PT Cerya Riau Mandiri Printing (percetakan), PT Cerya Zico Utama (properti), PT Bastara Jaya Muda (tambang batubara), PT Riau Agro Mandiri (penggemukan, impor dan ekspor ternak), PT Riau Agro Mandiri Perkasa (pembibitan, pengalengan daging), PT Indonesian Mesh Network (TV kabel dan Internet), dan PT Best Western Hotel (Hotel Basko). Proyek terakhir yang tengah digarapnya adalah pendirian Best Western Hotel dengan 198 kamar. Sebuah hotel bintang empat plus yang tengah di bangun di Padang, Sumatra Barat.

Beliau adalah salah satu sosok pengusaha sukses yang memulai usahanya dari nol. Dari cerita diatas, kita bisa mengambil pelajaran bahwa untuk mencapai kesuksesan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, butuh proses serta perjuangan yang panjang untuk mencapainya. Selain itu kita juga dapat mengadaptasi prinsip 3 K beliau dalam hidup, yaitu pandai-pandai berkomunikasi, manfaatkan peluang dan kesempatan, serta bekerjalah dengan komitmen tinggi.

Sumber Foto:http://www.zamrudtv.com/tokoh-3060-basrizal-koto-pelopor-perubahan-1.html

Senin, 27 Februari 2012

Jalan Terjal kesuksesan Eka Tjipta




Dimasa ini, siapa yang tidak kenal dengan pengusaha sukses yang satu ini. Dengan Sinar Mas grupnya beliau menjelma menjadi salah seorang pengusaha terkaya di Indonesia maupun Asia Tenggara. Namun siapa yang menyangka bahwa kesuksesannya kini tidak terlepas dari perjuangan panjangnya dulu.


Biografi Eka Tjipta
Eka Tjipta Widjaja lahir di Coan Ciu, Fujian, Republik Rakyat Cina dengan nama Oei Ek Tjhong, 3 Oktober 1923 .ia berasal dari keluarga miskin sehingga menuntut keluarga mereka untuk hijrah kenegara lain guna merubah nasib.

Bersama ibunya Eka Tjipta hijrah ke Indonesia tepatnya ke Makassar tahun 1932 pada usia sembilan tahun untuk menyusul ayahnya yang terlebih dahulu berdagang di Makasar. Setelah perjalanan tujuh hari tujuh malam yang amat berat akhirnya ia tiba di Makasar, dan perjalanan hidupnya di dunia yang baru pun dimulai.

Perjuangan Awal Eka Tjipta
Tiba di Makassar, segera membantu ayahnya yang sudah lebih dulu tiba dan mempunyai toko kecil. Dua tahun kemudian, toko ayahnya maju. Setelah itu Eka pun bersekolah. Setelah tamat SD, ia tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena masalah ekonomi. Ia pun berusaha berjualan keliling kota Makassar dengan menjajakan biskuit dan kembang gula. Hanya dua bulan, ia sudah mengail laba Rp. 20, jumlah yang besar masa itu. Harga beras ketika itu masih 3-4 sen per kilogram. Melihat usahanya berkembang, Eka membeli becak untuk memuat barangnya. Dari langkah pertamanya ini kita bisa melihat kejelian seorang Eka Tjipta dalam melihat peluang serta mengambil resiko untuk mengembangkan usahanya, sesuatu yang luar biasa mengingat usianya yang kala itu masih sangat muda.

Namun ketika usahanya mulai berkembang, cobaan pada usahanya pun mulai datang yaitu ketika Jepang menyerbu Indonesia, usahanya hancur. Ia menganggur karena tak ada barang yang bisa dijual. Total laba Rp. 2000 yang ia kumpulkan susah payah selama beberapa tahun, habis dibelanjakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Mencoba lagi, dan lagi
Di tengah harapan yang nyaris putus, Ia menemukan tumpukan terigu, semen, gula, yang masih dalam keadaan baik yang hendak dibuang di sekitar Paotere yang dikuasai oleh tentara Jepang. Otak bisnis Eka segera berputar. Secepatnya ia kembali ke rumah dan mengadakan persiapan untuk membuka tenda di dekat lokasi itu. Ia merencanakan menjual makanan dan minuman kepada tentara Jepang. Setelah sukses dengan warung makannya, Eka meminta izin untuk mengambil terigu, semen dan gula yang hendak dibuang tersebut lalu menjuallnya kembali. Dari usahanya itu dia meraup untung sangat besar.

Demi mengembangkan usahanya, Eka pun mulai berbisnis Kopra yang pada awal usahanya memperoleh keuntungan yang sangat besar, namun usahanya kembali kandas karena Jepang memonopoli perdagangan kopra melalui Mitsubishi. Semangat yang tidak ada habisnya kembali melecut Eka Untuk berbisnis Gula, namun lagi-lagi kandas karena harga gula yang tiba-tiba anjlok serta dagangan lainnya dijarah oknum Permesta.

Usaha yang tidak kenal lelahnya baru membuahkan hasil ketika Orde Baru tiba, Tjiwi Kimia, yang dibangun 1976, dan berproduksi 10.000 ton kertas sebagai awal kesuksesannya, lalu diikuti oleh perkebunan kelapa sawit seluas 10 ribu hektar di Riau, mesin serta pabrik berkapasitas 60 ribu ton. Perkebunan dan pabrik teh seluas 1.000 hektar berkapasitas 20 ribu ton dibelinya pula. Tahun 1982, ia membeli Bank Internasional Indonesia. PT Indah Kiat juga dibeli. Produksi awal (1984) hanya 50.000 ton per tahun. Sepuluh tahun kemudian produksi Indah Kiat menjadi 700.000 ton pulp per tahun, dan 650.000 ton kertas per tahun. Tak sampai di bisnis perbankan, kertas, minyak, Eka juga merancah bisnis real estate. Ia bangun ITC Mangga Dua, ruko, apartemen lengkap dengan pusat perdagangan.

Dari cerita beliau diatas, kita dapat mengambil pelajaran bahwa untuk mencapai kesuksesan diperlukan kerja keras, kesabaran, serta peka terhadap lingkungan sekitar. Beliau merupakan salah satu contoh pengusaha yang mencapai kesuksesan dari nol. Semoga cerita hidup beliau bisa menginspirasi kita untuk lebih berusaha dalam mencapai cita-cita.

Sumber : Wikipedia,mirianto.com